Pandangan Ibnu Jubair dan Ibnu Bathutah


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Menurut teori A. Syalabi berpendapat bahwa madrasah merupakan perkembangan dari masjid. Akibat besarnya semangat belajar umat Islam, membuat masjid-masjid penuh dengan halaqah-halaqah. Semakin banyak umat Islam yang tertarik untuk menuntut ilmu, semakin membuat masjid penuh dan tidak mampu lagi menampung murid-murid yang belajar. Keadaan ini mendorong perlunya lembaga pendidikan baru di luar masjid yang disebut madrasah.[1]
Teori A. Syalabi ini berlaku pada madrasah yang berada di Timur Tengah pada umumnya, dan tidak berlaku sepenuhnya pada negara-negara Islam lainnya. Misalnya di Spanyol (Islam), kegiatan pendidikan tetap berlangsung di masjid, meskipun jumlah murid yang belajar di dalamnya sudah berlimpah ruah. Menurut Tritton, madrasah tidak dikenal di Granada sampai akhir abad ke-7 H/13 M. Pendapat ini diperkuat oleh keterangan Ibn Sa’id (abad ke-7H/13 M), sebagaimana dikutip oleh Hillenbrand yang mengatakan, bahwa di Andalus tidak ada madrasah dan pengajarannya dilakukan di masjid-masjid.
Munculnya madrasah di Andalusia baru terjadi pada tahun ke 14 (tahun 750 H/1349 M) dengan mengambil lokasi di Granada. Pembagunan madrasah di Granada tersebut akhirnya menjadi contoh bagi pendirian madrasah-madrasah di tempat-tempat lain di Andalus.[2]
Menurut George Maqdisi (1990), munculnya madrasah di dunia Islam tidak lepas dari perkembangan fungsi masjid dan kuttab ini. Dengan demikian, berarti telah terjadi proses integrasi kelembagaan pendidikan Islam yang menekankan pada kajian keagamaan menjadi pengembangan keilmuan.[3]
Ahmad Syalabi (1954) bahkan menyebutkan berbagai macam tempat yang difungsikan sebagai kegiatan ilmiah, semisal kuttab untuk baca tulis, kuttab tindak lanjut untuk belajar Al-Qur’an dan materi lainnya, pendidikan dasar di istana khalifah, toko buku, rumah, masjid, perpustakaan, dan madrasah. Semua lembaga pendidikan tersebut aktivitasnya tidak hanya pendalaman ilmu-ilmu agama semata melainkan pengembangan ilmu pengetahuan.
Dalam bidang sejarah dan geografi, wilayah Islam bagian Barat melahirkan banyak pemikir terkenal. Ibn Jubair dari Valencia (1145-1228 M) menulis tentang negeri-negeri muslim di Mediterania Sicilia. Dan Ibn Batuthah dari Tangier (1304-1377 M) mencapai samudra Pasai dan Cina. Ibn Al-Khatib (1317-1374 M) menyusun riwayat Granada, sedangkan Ibn Khaldun dari Tunis adalah perumus filsafat sejarah. Itulah sebagian nama-nama besar dalam bidang sains.[4]
Di baghdad, terdapat madrasah nidzamiah yang dibangun pada masa sultan Alp Arsalan dan Malik Syah di bawah koordinator perdana menterinya yang bernama Nizham al-Muluk. Madrasah sudah menjadi fenomena yang menonjol sejak awal abad ke-11-12 M (abad 5 H), khususnya ketika wazir Bani Saljuk, Nizam Al-Mulk mendirikan Madrasah Nizamiyah di Baghdad. Walaupun bukan berarti ia orang pertama yang mendirikan madrasah, tetapi ia berjasa dalam mempopulerkan pendidikan madrasah bersamaan dengan reputasinya sebagai wazir. Begitu pesatnya pendidikan Islam pada waktu itu terdapat juga universitas damaskus serta madrasah Mustansiriyah.
            Jadi dapat diketahui bahwa pada abad ke 12 M sampai abad ke 14 M merupakan abad puncak kejayaan muslim di dunia karena pada masa keemasan ini banyak bermunculan para tokoh dan cendikiawan Muslim yang produktif dalam keilmuan yang telah berkembang pesatnya madrasah, seperti: madrasah Nizhamiyah, Universitas Damaskus, madrasah Mustansiriyah, dan lain-lain.


B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahannya, sebagai berikut:
  1. Bagaimana pandangan Ibnu Jubair mengenai pendidikan Islam (madrasah Nizhamiyah dan universitas Damaskus)?
  2. Bagaimana pandangan Ibnu Batuthah mengenai pendidikan Islam (madrasah Mustansiriyah)?
























BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pandangan Ibnu Jubair Mengenai Pendidikan Islam
Menurut Ibnu Jubair, seorang pengembara Andalus sangat tercengang dengan fenomena yang dilihatnya di Masyriq. Begitu banyak sekolah dan berbagai hasil bumi yang dihasilkan oleh badan-badan wakaf di situ. Maka ia mengajak orang-orang Magrib (Maroko) mengembara ke Masyriq untuk menuntut ilmu.
Ia berkata, “Telah banyak wakaf-wakaf yang disediakan untuk para penuntut ilmu di negeri-negeri Masyriq, terutama di Damaskus. Barangsiapa di antara putera-putera Magrib menginginkan keberuntungan maka pergilah ke negeri-negeri ini. Ia pasti memperoleh hal-hal yang membantunya untuk menuntut ilmu, antara lain yang pertama adalah tidak perlu memikirkan soal penghidupan.”
Kesaksian Ibnu Jubair ini berharga sekali. Ia pengembara yang dicirikan oleh kebenaran dan kejujuran dalam perkataannya. Ibnu Jubair mengkhususkan Damaskus dengan banyaknya sekolah dan wakaf. Di Damaskus ada lebih dari 400 buah sekolah yang ramai didatangi para pelajar. Sekolah-sekolah mempunyai banyak spesialisasi. Ada sekolah-sekolah yang khusus mengajarkan Al Qur`an, tafsir, penghafalan dan qiraat-nya. Ada sekolah-sekolah yang khusus mempelajari hadits. Ada sekolah juga yang khusus memperdalam fiqh. Bahkan di setiap mazhab mempunyai sekolah sendiri-sendiri. Ada sekolah-sekolah untuk pengobatan (kedoteran), dan sekolah untuk anak-anak yatim.
An Nuaimi, ulama abad ke-10 Hijriah menyebutkan sebuah bukti tentang nama sekolah-sekolah Damaskus dan wakaf-wakafnya. Dari Nuaimi kita dapat mengetahui bahwa di Damaskus saja ada 7 sekolah Ilmu Al Qur`an, 16 sekolah Hadits, 3 sekolah Qur`an dan Hadits, 63 sekolah fiqh Syafi`i, 52 sekolah fiqh Hanafi, 4 sekolah fiqh Maliki, dan 11 sekolah fiqh Hanbali. Selain itu ada sekolah-sekolah kedokteran, asrama, langgar dan masjid. Semua menjadi tempat menuntut ilmu.


  1. Madrasah Nizhamiyah
Madrasah Nizhamiyah adalah sebuah lembaga Pendidikan yang didirikan pada tahun 457-459 H/1065-1607 M (abad 4) oleh Nizham Al-Muluk dari dinasti Saljuk. Jadi dapat dikatakan bahwa Madrasah Nizhamiyah adalah Madrasah yang pertama kali muncul dalam sejarah pendidikan Islam yang berbentuk lembaga pendidikan dasar sampai perguruan tinggi yang dikelola oleh Pemerintah. Nizham Al Muluk mendirikan gedung-gedung Ilmiah untuk ahli Fiqh, membangun madrasah-madrasah untuk para Ulama, dan asrama untuk tempat beribadah serta fakir miskin dan pelajar yang tinggal di asrama diberi bekal secukupnya oleh Saljuk dan untuk menyiarkan mazhab keagamaan pemerintahan serta untuk menyokong sultan dan menyiarkan mazhabah lisunah keseluruh rakyat.[5]
a.       Kurikulum dan materi yang diberikan di madrasah Nizhamiyah
Menurut Mahmud Abbas Madrasah Nizhamiyah pengajarannya adalah ilmu-ilmu hikmah (filsafat). Madrasah Nizhamiyah mempunyai tugas pokok tersendiri yaitu mengajarkan fiqh yang sejalan dengan satu atau lebih dari mazhab ahli sunah dan juga menjadi tempat-tempat menarik pelajar untuk menggunakan waktu mereka sepenuhnya dalam belajar. Rencana pengajaran atau kurikulum di Madrasah Nizhamiyah menurut Mahmud Abbas adalah Al-Qur’an (membaca, menghapal dan menulis), sastra Arab, sejarah Nabi Muhammad SAW, fiqh, ushul fiqh dengan menitik beratkan kepada mazhab Syafi’i dan sistem teologi Asy’ariyah.  Sekedar memperjelas Madrasah ini juga diatur dengan sistem dan manajemen yang bagus sehingga menjadi salah satu madrasah yang termashur pada saat itu.
Menurut Al-Ghazali Ide-ide tokoh Madrasah Nizhamiyah yakni tentang metode asas mengajar baik untuk anak didik dan pendidiknya, diantaranya :

a)      Memperhatikan tingkat daya pikir anak.
b)      Menerangkan pelajaran dengan jelas.
c)      Mengajarkan ilmu pengetahuan dari yang kongkrit kepada yang abstrak.
d)     Mengajar kan ilmu pengetahuan dengan cara berangsur-angsur.

Ide-ide pendidikan yang dikemukakan oleh al-Ghazali merupakan hal yang sangat berharga bagi dunia pendidikan, baik untuk kepentingan pendidik maupun peserta didik yang semuanya mempunyai dampak pada diri dan lingkungan. Tidak dapat dipungkiri pendapat Al-Ghazali merupakan sumbangan yang besar dalam dunia pendidikan, ini terbukti bahwa ia menjadi rujukan bagi pendidik dan peserta didik tidakhanya didunia Islam tetapi juga diluar Islam dengan adanya renaissance di Eropa.[6]
b.      Pengaruh madrasah Nizhamiyah
Madrasah Nizhamiyah telah banyak memberikan pengaruh terhadap masyarakat, baik dibidang politik, sosial, ekonomi maupun bidang sosial keagamaan.Dalam batas ini madrasah merupakan kebijakan religi politik penguasa pemerintahan waktu itu, dimana Nizam al-Muluk sebagai pejabat pemerintah yang memiliki andil besar dalam pendirian dan penyebaran madrasah yang mana dalam bidang ekonomi madrasah ini dimaksudkan untuk mempersiapkan pegawai pemerintah, khususnya dibidang hukum dana administrasi serta mengajarkan hukum syari’ah. Madrasah Nizhamiyah sangat diterima di masyarakat karena sesuai dengan lingkungan dan keyakinan dilihat dari segi sosial keagamaan yang disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:[7]
1)      Ajaran yang diberikan di Madrasah Nizhamiyah adalah ajaran yang sesuai dengan ajaran yang dianut oleh sebagian besar masyarakat pada waktu itu yaitu Sunni.
2)      Madrasah Nizhamiyah diajar oleh beberapa Ulama terkemuka.
3)      Madrasah Nizhamiyah memfokuskan pada ajaran Fiqh yang dianggap sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada umumnya dalam rangka hidup dan kehidupan yang sesuai dengan ajaran dan keyakinan mereka.

  1. Universitas Damaskus
Universitas Damaskus adalah sebuah perguruan tinggi tertua dan terbesar di Suriah dengan kampus utama terletak di Damaskus (Ibu kota Suriah), dan kampus-kampus cabang di beberapa kota di Suriah. Universitas ini berdiri pada tahun 1923, pada saat Sekolah Kedokteran (yang berdiri pada tahun 1903) dan Institut Hukum (yang berdiri pada tahun 1913) digabung menjadi satu universitas. Sampai tahun 1958, Universitas ini bernama Universitas Suriah, dan namanya telah diganti ketika Universitas Aleppo berdiri. Universitas ini memiliki beberapa fakultas, sekolah tinggi, sekolah menengah dan sekolah ilmu keperawatan. Di universitas ini, juga terdapat sekolah yang mengajarkan bahasa Arab untuk orang asing, yang merupakan lembaga terbesar dari sejenisnya di dunia Arab.[8]
Selain dikenal sebagai kota yang pemurah dan dermawan, Damaskus juga tersohor sebagai salah satu pusat ilmu pengetahuan dalam sejarah peradaban Islam. Pada masa kekuasaan Khalifah Nur A-Din Zanki berkuasa, di Damaskus dibangun sekolah. Khalifah juga mewariskan begitu banyak buku untuk perpustakaan yang ada di kota itu.
Catatan tentang pesatnya perkembangan ilmu di Damaskus juga digambarkan seorang penjelajah Muslim yaitu Ibnu Jubair. Saat bertandang ke kota itu pada tahun 1184, dia menyaksikan begitu banyak fasilitas bagi pelajar asing dan pengunjung di Masjid Umayyah. Tak heran, bila Ibnu Jubair mendorong para pelajar dan mahasiswa dari Spanyol untuk pergi menimba ilmu ke Timur.
“Setiap orang di Barat yang ingin meraih sukses datang ke kota ini (Damaskus) untuk belajar. Sebab, fasilitas dan bantuan di sini begitu melimpah. Para pelajar yang menimba ilmu di sini tak pernah khawatir kekurangan makanan dan tempat bernaung,” papar Ibnu Jubair dalam catatan perjalanannya. Pelopor universitas modern pertama di Damaskus dibangun penguasa Seljuk, Nizam Al-Mulk. Sepeninggal Nizam, bermunculan madrasah atau universitas di seantero kota itu pada abad pertengahan.
Menurut Tawtah, ketika itu di Damaskus berdiri 73 perguruan tinggi, 41 universitas di Yerusalem, 40 universitas di Baghdad, 14 perguruan tinggi di Aleppo, 13 universitas di Tripoli, serta 74 perguruan tinggi di Kairo. Namun, ada pula yang menyebutkan jumlah perguruan tinggi di Damaskus pada era kejayaan Islam mencapai 150 buah.
Menurut Ibnu Jubair, madrasah yang paling favorit serta terbaik di dunia saat itu adalah Al-Nuriyyah Al-Kubra berada di Damaskus. Perguruan tinggi itu didirikan Khalifah Nur Al-Din. Selain itu, Ibnu Jubair juga mencatat di kota itu berdiri sebuah rumah sakit tua dan sebuah rumah sakit baru. Rumah sakit yang dibangun umat Islam pertama adalah rumah sakit Al-Nuri yang dibangun pada tahun 706 M oleh Khalifah Al-Walid Ibn Abd Al-Malik dari Dinasti Ummayah. Rumah sakit itu dilengkapi dengan peralatan paling modern dan tenaga dokter serta perawat yang profesional. Pada era itu, Damaskus tumbuh pesat sebagai salah kota penting yang dikuasai umat Islam.
Jadi, dapat dianalisis bahwa Ibnu Jubair merasa terpukau dengan kesaksiannya melihat madrasah yang ada di Masyriq khususnya di Damaskus sehingga mendorong para pelajar dan mahasiswa dari Spanyol untuk pergi menimba ilmu ke Timur.

B.     Pandangan Ibnu Bathutah mengenai Pendidikan Islam
Anak muda dari Tangier ini merelakan hidupnya pada hembusan angin yang membawanya kemana pun ia singgah. Napak tilas perjalanannya menempatkannya sebagai penjelajah dunia terbesar yang dimiliki peradaban Islam dan dunia. Ia bernama Ibnu Battuta.
Ketika Ibnu Battuta memulai penjelajahannya, barulah 125 tahun kemudian para penjelajah Eropa seperti Christopher Columbus, Vasco de Gama dan Magellan mulai berlayar. Tak heran ketika saat ia pulang ke kampung halamannya, kedua orang tuanya telah wafat tanpa kehadirannya. Namanya sendiri, dimata khalayak ramai telah terkenal sebagai penjelajah abad ini sesampainya di Tangier.
Penjelajah bernama asli Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Lawati al-Tanji ini lahir di kota Tangiers, Maroko pada 24 Februari 1304. Dibesarkan dalam keluarga yang taat menjaga tradisi Islam, Ibnu Battutah justru membenamkan diri pada ilmu-ilmu fikih dan sastra Arab. Keilmuan yang mendukungnya untuk sebuah penjelajahan seperti astronomi ataupun kelautan lainnya, bisa dikatakan tidak ada sama sekali. Perjalanan Penuh Kisah. Ibn Battuta jelas merupakan penjelajah yang luar biasa. Perjalanan yang ditempuhnya meliputi Spanyol, Rusia, Turki, Persia, India, Cina dan negara muslim lainnya. Ia selalu mendeskripsikan kondisi spiritual, politik dan sosial dari setiap negeri yang disinggahinya. Ia berhasil merekam seperti apa wajah peradaban Timur Tengah pada abad pertengahan.
  1. Madrasah Mustansiriyah
Dalam buku Samsul Nizar mengutip pendapat Ibnu Khaldun, bahwa pasang surut sebuah dinasti merupakan bagian dari siklus sejarah yang bersifat faktual. Sebagai sebuah pemerintahan atau kekuasaan Islam yang pernah jaya, juga tidak lepas dari kemunduran atau keruntuhan, begitu juga pengaruhnya dengan pendidikan. Madrasah Mustansiriyah dibangun pada periode Abasiyah kedua pada masa Saljuk. Kelahirannya berada pada kejayaan Abasiyah yang hampir runtuh. Suasana Bagdad waktu itu menghadapi konflik aliran dalam Islam yang sering menimbulkan konflik berdarah. Muncul juga dinasti-dinasti kecil yang ingin memerdekakan diri dari kekuasaan Abasiyah yang berpusat di Bagdad.[9]
Edmund Bosworth menulis bahwa sebelum berdirinya madrasah Mustansiriyah, pada tahun 1108 M Ayyarun yang cukup aktif di masa Saljuk, mereka menjarah toko-toko dan rumah-rumah. Perbedaan faham sektarian menimbulkan perkelahian dan kehancuran. Orang-orang berfaham Hambali melawan orang-orang Syafi’i, orang-orang Sunni melawan orang-orang Syi’ah.  Peristiwa ini sangat memprihatinkan, dan pada saat kholifah Al-Mustansir Billah menjadi kholifah, diupayakan olehnya untuk menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam dengan mendirikan madrasah yang kurikulumnya menyajikan pandangan empat madzhab hukum Islam.
Madrasah Mustansiriyah terletak di tepi timur sungai Tigris dekat jembatan Ma’mun (Jisr al-Ma’mun). Madrasah ini merupakan lembaga pendidikan ke dua di pusat kota Bagdad setelah madrasah Nizamiyah. Madrasah Nizamiyah didirikan tahun 457 H/1065 M, sedangkan madrasah Mustansiriyah didirikan tahun 623 H/1227 M berada di bagian timur Bagdad sebagai kota tersibuk. Kota tersebut dipilih sebagai tempat madrasah Mustansiriyah agar mudah dikunjungi orang dan kebutuhannya mudah terpenuhi.
  1. Kurikulum dan metode
Kurikulum pendidikan di madrasah Mustansiriyah merupakan kurikulum berciri keislaman abad pertengahan, yakni memiliki dua kategori sebagai berikut:
1)      Ilmu pengetahuan dasar (traditional sciences) dan pengetahuan bahasa Arab.
2)      Ilmu pengetahuan yang bersifat pemikiran/rasional.

Setiap pengajar senantiasa mengintegrasikan dua ciri khas tersebut pada materi yang diajarkan. Pemikiran yang disampaikan banyak mencontoh pada Imam Al-Ghazali.  Pemikiran Imam Al-Gozali mengenai dua hal, yaitu perlunya pengamatan dan analisa, dan perlunya keraguan.  Dengan kata lain ialah menggunakan pemikiran yang bersifat induktif, mendasarkan pengamatan pada fakta dan fenomena kemudian menjadi bangunan pengetahuan teoritis yang terinspirasi dari Al-Qur’an.[10]
Ada empat bidang studi penting yang diajarkan pada masa awal berdirinya, yaitu ilmu Al-Qur’an, biografi nabi Muhammad, ilmu kedokteran dan matematika. Selain itu, empat madzhab Sunni diajarkan di sana, yakni Hambali, Maliki, Syafi’i dan Hanafi. Setiap madzhab menempati pojok madrasah.  Pengajarannya pada mulanya menempati masjid. Para ulama muda mengelilingi profesor mereka dan berdiskusi. Hal ini terjadi karena mengajar merupakan tugas suci dan sering para pengajar sholat lebih dahulu sebelum mengajar. Setelah itu dalam pembelajaran di madrasah, tahap awalnya berupa hafalan, kemudian mereka mencatat apa yang harus ditulis. Jadi mereka secara bersamaan memperoleh dua kemampuan yaitu menghafal dan menulis. Kemampuan ini oleh Nashabe diberi istilah “dictating and learning through dictation” (al-imla’ wa al-istimla’).
Metode diskusi dan bertanya sering digunakan oleh mereka. Untuk bertanya kadang-kadang dengan bentuk tertulis. Diskusi-diskusi akademik dilaksanakan dengan pertemuan atau dengan cara korespondensi yang sering diberi komentar para ulama. Juga dilaksanakan perjalanan untuk menambah ilmu (rihlah fi talab al-ilmi) yang berhubungan dengan mencari literatur hadith, dan sintaksis ekspresi bahasa Arab yang asing.  Kegiatan pendidikan dilaksanakan dengan proses yang bagus dan metode ini banyak dilaksanakan oleh lembaga-lembaga pendidikan di masa sekarang misalnya dengan membuat makalah dan studi wisata.

Ketika Ibnu Batutah mengunjungi Bagdad tahun 727 H/1327 M, ia menyampaikan bahwa keadaan Bagdad sudah relatif makmur. Ada dua madrasah yang ia pandang bagus, yaitu Nizamiyah dan Mustansiriyah. Namun Mustansiriyah menurutnya lebih bagus, mungkin karena ada kurikulum fiqh Maliki, sedangkan Nizamiyah tidak. Ibnu Batutah sendiri orang berfaham Maliki.[11] 
Periode ketiga: Madrasah Mustansiriyah dari tahun 739 H/1338 M sampai masa Modern. Ikhanate Mongol jatuh kekuasaannya pada tahun 739 H/1338 M kepada Timurlank. Bagdad dikuasai oleh sultan-sultan Jalariyid tahun 739 H/1338 M sampai 814 H/1411 M. Kegiatan pendidikan dilanjutkan dengan menggunakan literatur Persia yang berangsur-angsur mengedepankan Arab-Iraq. Hal yang penting tentang pendidikan pada periode ini ialah pengembangannya dengan peraturan penguasa yang mendorong pengajaran seni menulis, puisi, pengecatan, musik dan kaligrafi. Madrasah diarahkan pada dua hal pokok yaitu fiqh dan pengetahuan keagamaan.
Madrasah Mustansiriyah bisa melanjutkan kegiatannya dengan makmur dari waqaf. Termasuk juga madrasah-madrasah yang lain memiliki sistem yang bertujuan untuk mencetak lulusan yang membentuk birokrasi negara.  Tidak banyak diperoleh keterangan yang ditulis dalam sejarah tentang maju atau mundurnya madrasah Mustansiriyah. Ketika Irak dibawah kekuasaan Qara Quyunlu 814 H/1411 M-874 H/1469 M  dan Aq-Quyunlu 874 H/1469 M – 906 H/1500 M banyak terjadi perang kecil dan kerusuhan. Pemerintahan dipegang orang rakus dan tidak relijius. Madrasah-madrasah yang ada di beberapa tempat terbengkalai. Namun pada saat Sulaiman Pasha menjadi wali kota Bagdad tahun 1193 H/1779 M- 1217 H/1802 M waqaf dialokasikan untuk membangun sekolah yang dikenal dengan Madrasah al-Sulaimaniyah. Sedangkan madrasah Mustansiriyah diubah sebagai khan (rumah tamu).
Setelah Perang Dunia Pertama, tahun 1340 H/1921 M Amir Faisal I mengunjungi Madrasah Mustansiriyah. Saat kunjungannya itu ada dua penyair besar Irak, Ma’ruf al-Rusafi dan Jamil Sidqi al-Zahawi, menyuguhkan puisi yang isinya mengingatkan orang-orang Arab tentang tradisi besar lembaga pendidikan ini untuk segera dipulihkan. Departemen Waqaf juga menuntut agar departemen keuangan segera merestorasi madrasah Mustansiriyah, namun tuntutan ini ditolak. Maka melalui pengadilan Syar’i  diputuskan bahwa departemen keuangan yang harus merestorasi madrasah Mustansiriyah.
Pada tahun 1365 H/1945 M Departemen Purbakala Iraq melaksanakan keinginan departemen waqaf.  Namun area Mustansiriyah yang dipakai hanya setengahnya. Di sekeliling dibuat tempat yang disebut Suq al-Rihmah, Suq al-Mawlakhanah, Qahwat al-Mumayyiz, al-Idarah al-Nahriyah dan Jami’ al-Asafiyah.
Pada tahun 1963, para ilmuwan dan intelektual Bagdad telah melahirkan kembali perguruan tinggi ini yang mengambil nama dari sekolah tinggi di masa kejayaannya, yakni Universitas Al-Mustansiriyah. Kini Mustansiriyah merupakan lembaga perguruan tinggi modern memiliki sepuluh  fakultas, dua institut dan empat pusat studi dan kajian. Fakultas-fakultasnya ialah: Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Fakultas Seni, Fakultas Pendidikan, Fakultas Sains, Fakultas Pendidikan Kedokteran, Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Politik, Fakultas Pendidikan Dasar, dan Fakultas Ilmu Kedokteran Gigi. 
Sebagai universitas yang berkaliber internasional, bisa terlihat antara lain dari adanya kerjasama Universitas Mustansiriyah dengan perguruan tinggi di dunia seperti Universitas Libanon, Universitas Ural di Rusia, Universitas Sudan, universitas-universitas di Amerika, Jerman dan Australia.
Jadi dapat dianalisis bahwa Ibnu Batutah saat mengunjungi kota Bagdad, dia menganggap bahwa madrasah yang ada disana sudah bagus. Salah satunya adalah madrasah Mustansiriyah karena madrasah ini berfaham madzhab Maliki yang Ibnu batutah sendiri juga berfaham madzhab Maliki.





BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa pada abad ke 12 M sampai abad ke 14 M merupakan abad puncak kejayaan muslim di dunia karena pada masa keemasan ini banyak bermunculan para tokoh dan cendikiawan Muslim yang produktif dalam keilmuan yang telah berkembang pesatnya madrasah, seperti: madrasah Nizhamiyah, Universitas Damaskus, madrasah Mustansiriyah, dan lain-lain.
Catatan tentang pesatnya perkembangan ilmu di Damaskus juga digambarkan seorang penjelajah Muslim yaitu Ibnu Jubair. Saat bertandang ke kota itu pada tahun 1184, dia menyaksikan begitu banyak fasilitas bagi pelajar asing dan pengunjung di Masjid Umayyah. Tak heran, bila Ibnu Jubair mendorong para pelajar dan mahasiswa dari Spanyol untuk pergi menimba ilmu ke Timur yaitu madrasah nizamiyah dan universitas Damaskus.
Ketika Ibnu Batutah mengunjungi Bagdad tahun 727 H/1327 M, ia menyampaikan bahwa keadaan Bagdad sudah relatif makmur. Ada dua madrasah yang ia pandang bagus, yaitu Nizamiyah dan Mustansiriyah. Namun Mustansiriyah menurutnya lebih bagus, mungkin karena ada kurikulum fiqh Maliki, sedangkan Nizamiyah tidak. Ibnu Batutah sendiri orang berfaham Maliki.



[1] Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan, edisi ketiga, (Jakarta: Prenada Media Group, 2010), hlm. 289
[2] Ibid., hlm. 290
[3] Abd. Rachman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Raja Grapindo Persada, 2011), hlm. 9
[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: Grafindo Persada, 2010), hlm. 268 
[5] Siti Maryapm, dkk., Sejarah Peradaban Islam: Dari masa Klasik hingga Modern, (Yogyakarta: LESFI, 2004), hlm. 83
[6]Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan  Islam, (Jakarta: Kencana, 2009), .hlm. 163
[7] Ibid., hlm. 168
                [8]Ahmad Al-Usayri,  Sejarah Islam, (Jakarta: Akbar, 2004), hlm. 345
[9] Samsul Nizar, Ibid., hlm. 173
[10] Suwito dan Fauzan, Sejarah Sosial Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Predana Media Group, 2008), hlm. 167

[11] Sunanto, Musyrifar,  Sejarah Islam Klasik, Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, (Jakarta: Kencana, 2007), hlm. 43

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sarana dan Prasarana Pendidikan

Syiah dan Sunni

Ma'had Aly