Pemikiran Filsafat Kontemporer terhadap Pendidikan Islam Menurut Prof. Abuddin Nata, MA
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam
adalah adalah agama yang rahmatan lil ‘aalamiin, universal dan telah
disempurnakan Allah, syariat dan hukum-hukumnya adalah universal yang tidak
terbatas oleh ruang waktu dan tempat, sempurna dan menyempurnakan terhadap agama-agama
sebelumnya sehingga ia tidak hanya menjadi rahmat bagi pengikutnya, namun juga merupakan Rahmatan
Lil Alamin, rahmat dan kasih sayang bagi semesta alam dan semua ummat manusia. Ilmu
dan pendidikan dalam Islam memiliki posisi yang sangat mulia, ini bisa dilihat
bagaimana wahyu pertama yang turun kepada nabi Muhammad SAW di gua Hiro adalah
perintah untuk membaca:
ù&tø%$#
ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{
ÇÊÈ t,n=y{
z`»|¡SM}$# ô`ÏB
@,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7/uur
ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$#
zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/
ÇÍÈ zO¯=tæ
z`»|¡SM}$# $tB óOs9
÷Ls>÷èt ÇÎÈ
“Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia Telah menciptakan manusia
dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar
dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya”(Qs. Al-Alaq: 1-5).
Ada
dua unsur pendidikan yang Allah sebutkan dalam surah al-Alaq ini, yang pertama
adalah, Al-qiro`ah yang berasal dari
kata Iqro` dalam ayat, yang berarti membaca. Membaca merupakan salah satu unsur
terpenting dalam pendidikan, kunci pengajaran dan pendidikan adalah membaca,
bahkan membaca merupakan kunci dari banyak kebaikan dan keberkahan. Unsur
pendidikan kedua yang Allah sebutkan dalam surah Al-Alaq adalah Al-Qolam yang
berarti pena, pena merupakan unsur pendidikan yang sangat penting, seorang
murid tidak akan mampu membaca dan menulis tanpa peranan pena.
Bukti
lain yang menunjukkan betapa ilmu dan pendidikan memiliki posisi yang amatlah
mulia dalam Islam, bahwasanya dalam keadaan perang sekalipun, ummat islam
tidaklah diperintahkan untuk keluar berperang semuanya, namun hendaklah ada
sekolompok dari kaum muslimin yang mengkhususkan diri dan waktu untuk mengkaji
dan mendalami urusan agama, agar kelak mereka kembali kepada kaum mereka untuk
mengajarkannya.
Dikutip
dari buku Abuddin Nata oleh Sri Minarti bahwa Islam sebagai agama yang
seimbang, mengajarkan bahwa setiap usaha yang dilakukan tidak hanya melibatkan
peran manusia, tetapi juga melibatkan peran Tuhan. Pola keseimbangan ini oleh
Nabi Muhammad Saw dideskripsikan dengan sebuah kegiatan bertani. Jika seorang
petani ingin mendapatkan hasil pertanian yang baik, maka ia harus menyiapkan
lahan yang subur, cuaca yang tepat, air dan pupuk yang cukup, bibit yang
unggul, cara menanam yang benar, perawatan tanaman yang intensif, dan masa
tanam yang sesuai. Berbagai usaha tersebut telah dilakukan, tetapi belum dapat
menjamin seratus persen akan berhasil dengan baik.[1]
Di
tengah perkembangan teknologi pendidikan yang semakin maju dan fasilitas pendidikan
yang semakin berkembang, tidak dipungkiri bahwa krisis pendidikan telah menimpa
pendidikan modern di seluruh belahan Negara, baik itu Negara maju atau Negara
berkembang, dimana sistem pendidikan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat
dan Negara, yang akhirnya mengakibatkan jumlah dan angka pengangguran yang
semakin meningkat. Meluasnya kekerasan pada pelaku pendidikan, akibat krisis
kepimimpinan dan hilangnya ukhuwah hasanah (contoh yang baik) di keluarga dan
di lembaga pendididikan, yang bersumber dari hilangnya aqidah shahihah (aqidah
yang benar) dan nilai-nilai kemuliaan dari wajah pendidikan modern.
Dr.
Zaglul an-Najjar dalam kitabnya Nazharat fi `Azmati at-Ta`lim al-Mu`ashir wa
Hululiha al-Islamiyah, melihat bahwa solusi terbaik dari krisis pendidikan
modern ini adalah kembali kepada konsep pendidikan Islam yang benar, karena ia
merupakan satu-satunya konsep Rabbani yang ada dan nyata di tengah ummat
manusia hari ini.[2]
Islam
dalam sejarah, telah melahirkan ulama-ulama hebat dalam bidang pendidikan yang telah banyak memberikan
kontribusi yang besar terhadap kemajuan pendidikan dunia dan khususnya
pendidikan Islam, baik secara konsep maupun pemikiran. Seperti Imam Al-Ghazali,
Imam Ibnu Taimiyah, Ibnu Miskawaih, Ibnu Jama`ah dan ulama-ulama lainnya. Islam
senantiasa diteguhkan dan dimuliakan Allah dengan lahirnya ulama-ulama penerus
estafet dakwah Rasulullah, dalam pendidikan modern, Islam senantiasa melahirkan
ulama dan intelektual yang memberikan kontribusi terhadap kemajuan pendidikan
modern, baik itu secara konsep maupun pemikiran, salah satunya adalah Prof. Dr. H. Abuddin Nata, MA.
B. Rumusan Masalah
Dari
latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahannya yaitu bagaimana
pemikiran filsafat kontemporer sebagai pendidikan agama Islam menurut Prof. Dr.
H. Abuddin Nata, MA?
PEMBAHASAN
A. Riwayat Hidup Prof. Dr. H. Abuddin Nata,
MA.
Prof. Dr. H. Abuddin
Nata, MA lahir di Bogor, 2 Agustus 1954. Setelah menamatkan Madrasah Ibtidaiyah
Wajib Belajar di Nagrog, Ciampea Bogor pada tahun 1968, ia melanjutkan
pendidikan pada Pendidikan Guru Agama (PGA) 4 tahun sambil mondok di Pesantren
Nurul Ummah di alamat yang sama dan tamat tahun 1972. Setelah itu pendidikannya
dilanjutkan pada Pendidikan Guru Agama (PGA) 6 tahun sambil mondok di pesantren
Jauharatun Naqiyah, Cibeber, Serang, Banten dan tamat pada tahun 1974.[3]
Prof. Dr. H. Abuddin
Nata, MA Memperoleh gelar Sarjana Muda (BA) pada tahun 1979 dan Sarjana Lengkap
(Drs) jurusan Pendidikan Agama Islam pada Fakultas Tarbiyah Institut Agama
Islam Negeri (IAIN) atau UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan tamat tahun 1981.
Gelar Magister (MA) bidang Studi Islam diperoleh pada tahun 1991, sedang gelar
Doktor bidang Studi Islam diperoleh pada tahun 1997 masing-masing dari Fakultas
Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan desertasi berjudul Konsep
Pendidikan Ibnu Sina. Pada tahun 1999 sampai dengan awal tahun 2000
berkesampatan mengikuti Visiting Post Doctorate Program di Institute of Islamic
Studies McGill University Montreal Canada atas biaya Canadian Internasional
Development Agency (CIDA) dengan fokus kajian pada Pemikiran Pendidikan Imam
al-Gazhali.
Karir bidang pekerjaan
dimulai sebagai tenaga peniliti lepas pada Lembaga Studi Pembangunan (LSP) di
Jakarta tahun 1981-1982. Instruktur pada Lembaga Bahasa dan Ilmu Al-Qur`an
(LBIQ) Daerah Khusus Ibukota Jakarta tahun 1982-1985, Pengisi Acara Oborolan
Ramadhan (Obor) pada Radio Mustang Jakarta tahun 1992-1998. Setelah itu, ia
bertugas sebagai Dosen Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam pada Fakultas
Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mulai tahun 1985.
Semasa kuliah, ia
tercatat sebagai aktivis antara lain sebagai Ketua Bidang II Himpunan Mahasiswa
Islam (HMI) Cabang Ciputat (1978-1979), Pengurus Senat Masiswa Fakultas
Tarbiyah (1978-1979), Ketua Badan Pembinaan Kegiatan Mahasiswa (BPKM)
(1980-1981) masing-masing pada Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta. Negara-negara yang pernah dikunjunginya antara lain Saudi
Arabia, Canada, Amerika Serikat, Alaska, Singapore, Hongkong. Jabatan yang
pernah dipegang antara lain sebagai Ketua Jurusan Kependidikan Islam Fakultas
Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1997-1998), Pembantu Dekan II
Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1998-1999), dan Pembantu
Rektor Bidang Administrasi Umum IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1999.[4]
B. Karya Tulis Prof. Dr. H. Abuddin Nata,
MA.
Di tengah-tengah
kesibukan beliau dalam menjalankan aktifitas kesehariannya sebagai dosen,
pengisi acara di Radio dan banyak lagi kesibukan lainnya, beliau masih
menyempatkan waktu untuk menulis karya-karnya, diantara karya beliau, Sejarah
Islam (1990), Ilmu Kalam (1990), Al-Qur`an Hadist (Dirasah Islamiyah Islam)
(1992), Ilmu Kalam Filsafat dan Tasawuf, (Dirasah Islamiyah Metodologi Studi Islam)
(1997), Akhlaq Tasawuf (1996), Filsafat Pendidikan Islam (1995), Pola Hubungan
Guru Murid (2001), Tafsir Ayat-ayat Pendidikan (2002), Manajemen Pendidikan
(2003), Pemikiran Pendidikan Islam Abad Pertengahan (terj) Islamic Educational
Thaught in the Midle ages (2003),Dimensi Pendidikan Spritual Dalam Tradisi
Islam (2003), dan sejumlah entri untuk Entry Ensiklopedi Islam (1989),
Ensiklopedi Islam Indonesia (1993), Entry Ensiklopedi Islam (5 Jilid) (1996),
Entry Ensiklopedi Al-Qur`an (1997), Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis dan
Desertasi(2001), Membangun Pusat Keunggulan Studi Islam (2002), Integrasi Ilmu
Agama dan Ilmu Umum(2005), Pembaharuan Tokoh Pendidikan Islam Indonesia (2005),
Perspektif Islam tentang Pendidikan Kedokteran (2005), Pendidikan dalam Perspektif
Hadist, Kajian Tematik Al-Qur`an (2005), serta karya-karya beliau tentang
buku-buku Agama Islam untuk Sekolah Menengah Lanjutan Atas yang juga ditulis
pada tahun (2005).
C. Pemikiran Filsafat sebagai Konsep Pendidikan
Islam Menurut Prof. Dr. Abuddin Nata, MA.
Gagasan dan pemikiran
pendidikan Abuddin Nata dapat ditelusuri dari berbagai karya dan tulisan beliau
di bidang pendidikan, serta aktifitas beliau di dunia pendidikan, sebagaimana
yang telah diuraikan pada point sebelumnya.Dari berbagai judul buku yang pernah
ditulisnya tersebut, dapat disimpulkan dan diidentifikasi aspek-aspek pemikiran
dan pendidikan Islam yang dimajukan oleh Abuddin Nata sebagai berikut:
a.
Visi
dan Misi Pendidikan Islam
Visi pendidikan Islam
menurut Abuddin Nata sesungguhnya melekat pada visi ajaran Islam itu sendiri
yang terkait dengan visi kerasulan para Nabi, mulai dari Visi kerasulan Nabi
Adam Alaihi as-Salam hingga kerasulan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam
yaitu membangun sebuah kehidupan manusia yang patuh dan tunduk kepada Allah
serta membawa Rahmat bagi seluruh alam.[5]
Visi ini tercantum dalam Al-Qur`an Surah
Al-Anbiya 107.
!$tBur
»oYù=yör&
wÎ) ZptHôqy
úüÏJn=»yèù=Ïj9
ÇÊÉÐÈ
“Dan tiadalah kami mengutus kamu,
melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”(Qs. Al-Anbiya: 107).[6]
Sejalan dengan visi
pendidikan Islam sebagaimana tersebut di atas, maka misi pendidikan Islam
menurut Abuddin Nata juga erat kaitannya dengan misi ajaran Islam itu Sendiri.
Berdasarkan petunjuk dan Isyarat yang terdapat dalam Al-Qur`an, dijumpai
inforimasi bahwa misi pendidikan Islam terkait untuk memperjuangkan,
menegakkan, melindungi, mengembangkan dan membimbing tercapainya tujuan
kehadiran agama bagi manusia.
b.
Tujuan
Pendidikan Islam
Sebelum menguraikan
tujuan pendidikan Islam menurut Abuddin Nata, berikut akan dikemukakan tujuan
utama pendidikan Islam menurut Dr. Abdurrahman al-Nahlawi dalam kitabnya usul
at-Tabiyah al-Islamiyah yaitu, terwujudnya ibadah kepada Allah semata dalam kehidupanpribadi
dan masyarakat. Sebagaimana Allah jelaskan dalam Al Qur`an Surah Adz-Dzariyat ayat
56:
$tBur
àMø)n=yz £`Ågø:$#
}§RM}$#ur
wÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan
manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”(Qs.Ad-Dzariyat 56).
Adapun tujuan
pendidikan menurut Abuddin Nata memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Mengarahkan manusia agar menjadi
khalifah Tuhan di muka bumi dengan sebaik-baiknya, yaitu melaksanakan
tugas-tugas memakmurkan dan mengolah bumi sesuai dengan kehendak Tuhan.
2. Mengarahkan manusia agar seluruh
pelaksanaan tugas kekhalifahannya di muka bumi dilaksanakan dalam rangka
beribadah kepada Allah, sehingga tugas tersebut terasa ringan dilaksanakan.
3. Mengarahkan manusia agar berakhlaq
mulia, sehingga ia tidak menyalahgunakan kekhalifahannya.
4. Membina dan mengarahkan potensi akal,
jiwa, dan jasmaninya, sehingga ia memiliki ilmu, akhlaq, dan keterampilan yang
semua ini dapat digunakan untuk mendukung tugas pengabdian dan kekhalifahannya.
5. Mengarahkan manusia agar dapat mencapai
kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.[7]
Tujuan utama pendidikan
Islam adalah mewujudkan manusia yang berakhlak mulia, di samping mencerdaskan
akal pikiran dan keterampilannya. Dengan cara demikian akan lahir
manusia-manusia yang pandai, terampil namun berakhlak mulia. Manusia-manusia
yang demikian itulah yang diharapkan dapat membangun masyararakat madani.
Dilihat dari sifatnya,
pendidikan Islam tidak memisahkan antara pengajaran dan pendidikan. Pengajaran
biasanya diartikan mengisi otak anak dengan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge),
sedangkan pendidikan adalah membina attitude, kepribadian, atau sikap.[8]
c. Dasar-dasar Pendidikan Islam
Yang dimaksud dengan
dasar pendidikan Islam menurut Abuddin Nata adalah pandangan hidup yang
melandasari seluruh aktivitas pendidikan. Karena dasar menyangkut masalah ideal
dan fundamental, maka diperlukan landasan pandangan hidup yang kokoh dan
komprehensif, serta tidak mudah berubah.Lanjut menurut Abuddin Nata bahwa
Al-Qur`an dan Al-Hadist yang merupakan sumber utama pendidikan Islam telah menguraikan
dengan jelas dasar-dasar pendidikan Islam sebagai berikut:
a)
Dasar
Tauhid, seluruh kegiatan pendidikan Islam dijiwai oleh norma-norma Ilahiyah dan
sekaligus dimotivasi sebagai ibadah. Dengan ibadah pekerjaan pendidikan lebih
bermakna, tidak hanya makna material tetapi juga makna spritual. Dalam
Al-Qur`an dan Al-Hadist, masalah tauhid adalah masalah yang pokok, Ibnu Ruslan
contohnya yang ditulis oleh Abuddin Nata mengatakan bahwa yang pertama
diwajibkan bagi seorang muslim adalah mengetahui Tuhannya dengan penuh Tauhid
atau keyakinan.
b)
Dasar
Kemanusian, yang dimaksud dengan dasar kemanusiaan adalah pengakuan akan
hakekat dan martabat manusia. Hak-hak sesorang harus dihargai dan dilindungi,
dan sebaliknya untuk merealisasikan hak-hak tersebut, tidak dibenarkan
pelanggaran terhadap hak-hak orang lain, karena setiap muslim memiliki
persamaan derajat, hak, dan kewajiban yang sama. Yang membedakan antara seorang
muslim dengan lainnya hanyalah ketaqwaannya.
c)
Dasar
Kesatuan Ummat Manusia, yang dimaksud dengan dasar ini adalah pandangan yang
melihat bahwa perbedaan suku bangsa, warna kulit, bahasa dan sebagainya,
bukanlah halangan untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan ini, karena pada
dasarnya semua manusia memiliki tujuan yang sama yaitu mengabdi kepada Tuhan. Prinsip
kesatuan ini selanjutnya menjadi dasar pemikiran global tentang nasib ummat
manusia di seluruh dunia. Yaitu pandangan, bahwa hal-hal yang menyangkut
kesejahteraan, keselamatan, dan keamanan manusia, termasuk masalah-masalah yang
berkaitan dengan pendidikan, tidak cukup dipikirkan dan dipecahkan oleh
sekelompok masyarakatatau bangsa tertentu, melainkan menjadi tanggung jawab antara suatu bangsa dan bangsa lainnya.
d)
Dasar
Keseimbangan, yang dimaksud dengan dasar keseimbangan adalah prinsip yang
melihat antara urusan dunia dan akhirat, jasmani dan rohani, individu dan
sosial, ilmu dan amal dan sesterusnya adalah merupakan dasar yang antara satu
dan lainnya saling berhubungan dan saling membutuhkan. Prinsip keseimbangan ini
merupakan landasan terwujudnya keadilan, yakni adil terhadap diri sendiri dan
adil terhadap orang lain.
e)
Dasar
Rahmatan Lil ‘Aalamin, maksud dari dasar ini adalah melihat bahwa seluruh karya
setiap muslim termasuk dalam bidang pendidikan adalah berorientasi pada
terwujudnya rahmat bagi seluruh alam, hal ini termaktub dalam Al-Qur`an Surah
Al-Anbiya 107.
!$tBur »oYù=yör& wÎ)
ZptHôqy úüÏJn=»yèù=Ïj9 ÇÊÉÐÈ
“Dan
tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”(Qs.Al-Anbiya
107).
Dari ayat di atas dapat diketahui bahwa
pendidikan untuk mencerdaskan bangsa dan meningkatkan kualitas sumber daya
manusia adalah dilaksanakan dalam rangka mewujudkan rahmat bagi seluruh alam.[9]
d.
Pengertian
Anak Didik
Menurut Abuddin Nata,
anak didik dapat dicirikan sebagai orang yang tengah memerlukan pengetahuan
atau ilmu, bimbingan, dan pengarahan. Dalam pandangan Islam, hakekat ilmu
adalah milik Allah. Sedangkan proses memperolehnya dilakukan melalui belajar
kepada guru. Karena ilmu dari Allah, maka membawa konsekuensi perlunya anak
didik mendekatkan diri kepada Allah atau menghiasi diri dengan akhlaq yang
mulia yang disukai Allah.
Adapun akhlaq yang
harus dimiliki oleh seorang anak didik, Abuddin Nata dalam buku Filsafat
Pendidikan Islam, mengutip pendapat Asma Hasan Fahmi bahwa ada empat akhlaq
yang harus dimiliki seorang anak didik, yaitu:
1. Seorang anak didik harus membersihkan
hatinya dari kotoran dan penyakit jiwa sebelum ia menuntut ilmu, karena belajar
merupakan ibadah yang tidak sah dikerjakan kecuali dengan hati yang bersih.
2. Seorang anak didik harus mempunyai
tujuan menuntut ilmu dalam rangka menghiasi jiwa dengan sifat keutamaan,
mendekatkan diri kepada Allah dan bukan untuk mencari kemegahan dan kedudukan.
3. Seorang pelajar harus tabah dalam
memperoleh ilmu pengetahuan dan bersedia pergi merantau.
4. Seorang anak murid wajib menghormati
guru dan berusaha agar senantiasa memperoleh kerelaan dari guru.[10]
e.
Lingkungan
Pendidikan Islam
Lingkungan pendidikan
Islam adalah suatu institusi atau lembaga dimana pendidikan itu berlangsung.
Lingkungan Tarbiyah al-Islamiyahdi dalamnya terdapat ciri-ciri keislaman yang
memungkinkan terselenggaranya pendidikan Islam dengan baik, lingkungan sebagai
sebuah tempat kegiatan sesuatu hal, mendapat pengarahan dan perhatian dari
Al-Qur`an al-Kariim, lingkungan dalam Al-Qur`an dikenal dengan istilah
al-qaryah yang diulanda dalam Al-Qur`an sebanyak 52 kali.
Adapun fungsi lingkungan
Tarbiyah Islamiyah antara lain menunjang terjadinya kegiatan proses belajar
mengajar secara aman, tertib, dan berkelanjutan. Untuk ini, Al-Qur`an memberi
isyarat tentang pentingnya menciptakan suasana saling menolong, saling
menasehati dan seterusnya agar kegiatan yang dijalankan manusia dapat berjalan
dengan baik.
Yang termasuk
lingkungan atau tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan Islam terdiri dari
rumah, masjid, kutab dan madrasah, lanjut tentang lingkungan pendidikan Islam,
Abuddin Nata membagi lingkungan pendidikan Islam tiga bagian, Satuan Pendidikan
Luar Sekolah yaitu lingungan keluarga, Lingkungan Pendidikan Dalam Sekolah, Serta
Lingkungan Masyarakat.[11]
f.
Kurikulum
Pendidikan Islam
Pendidikan Islam
sepanjang sejarah kegemilangannya memandang kurikulum pendidikan sebagai alat
untuk mendidik generasi muda dengan baik dan menolong mereka untuk membuka dan
mengembangkan kesediaan-kesediaan, bakat-bakat, kekuatan-kekuatan, dan
keterampilan mereka yang bermacam-macam dan menyiapkan mereka dengan baik untuk
melaksanakan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi.
Adapun ciri-ciri
kurikulum pendidikan Islam, Abuddin Nata mengutip pendapat Omar Muhammad
at-Toumy al-Syaibani bahwa kurikulum pendidikan Islam memiliki lima ciri yaitu:
a)
Menonjolkan
tujuan agama dan akhlaq pada berbagai tujuannya, kandungan, metode, alat, dan
tekniknya bercorak agama.
b)
Meluas
cakupannya dan menyeluruh kandungannya, yaitu kurikulum yang betul-betul
mencerminkan semangat, pemikiran dan ajaran yang menyeluruh.
c)
Bersikap
seimbang diantara berbagai ilmu yang dikandung dalam kurikulum yang akan
digunakan.
d)
Bersikap
menyeluruh dalam menata seluruh mata pelajaran yang diperlukan anak didik.
e)
Kurikulum
yang disusun selalu disesuaikan dengan minat bakat anak didik.
Kurikulum pendidikan
Islam selain memiliki ciri-ciri sebagaimana disebutkan di atas, ia juga
memiliki prinsip yang harus ditegakkan. Al-Syaibany menurut yang dikutip
Abuddin Nata menyebutkan tujuh prinsip kurikulum pendidikan Islam, yaitu:
1. Prinsip pertautan yang sempurna dengan
agama.
2. Prinsip menyeluruh (universal) pada
tujuan-tujuan dan kandungan-kandungan kurikulum, yakni mencakup akidah, akal,
dan jasmani.
3. Prinsip keseimbangan yang relatif antara
tujuan-tujuan dan kandungan kurikulum.
4. Prinsip keterkaitan antara bakat, minat,
kemampuan-kemampuan, keterampilan dan kebutuhan pelajar.
5. Prinsip pemeliharaan perbedaan-perbedaan
individual antara para pelajar.
6. Prinsip menerima perkembangan dan
perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat.
7. Prinsip keterkaitan antara berbagai mata
pelajaran dengan pengalaman-pengalaman dan aktifitas yang terkandung dalam
kurikulum.
g.
Evaluasi
Dalam Pendidikan Islam
Evaluasi pendidikan
memiliki kedudukan yang sangat strategis, karena hasil dari kegiatan evaluasi
dapat digunakan sebagai input untuk melakukan perbaikan kegiatan pendidikan. Ajaran
Islam juga menaruh perhatian yang besar terhadap evaluasi tersebut. Allah SWT
dalam berbagai fiman-Nya dalam kitab suci Al-Qur`an memberitahukan kepada kita,
bahwa pekerjaan evaluasi terhadap manusia didik adalah merupakan suatu tugas
penting dalam tangkaian proses pendidikan yang telah dilaksanakan oleh
pendidik. Adapun tujuan evaluasi menurut ajaran Islam, berdasarkan pemahaman
terhadap ayat-ayat Al-Qur`an antara lain dapat disebutkan sebagai berikut:
1. Untuk menguji daya kemampuan orang yang
beriman terhadap berbagai macam problema hidup yang dialaminya.
2. Untuk mengetahui sampai dimana hasil pendidikan
wahyu yang telah diterapkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,
terhadap umatnya.
3. Untuk menentukan klasifikasi atau
tingkat-tingkat hidup keislaman atau keimanan manusia, sehingga diketahui
manusia yang paling mulia di sisi Allah SWT.
KESIMPULAN
Setelah
menguraikan secara singkat pemikiran pendidikan Islam Prof. Dr. H. Abuddin Nata,
MA di atas, maka dapat ditarik beberapa simpulan sebagai berikut:
- Dari
berbagai karya dan tulisannya di bidang pendidikan, Prof. Dr. H. Abuddin Nata
MA bisa dikategorikan bukan hanya praktisi pendidikan, namun juga pemikir
pendidikan Islam yang menawarkan beberapa pemikiran dan konsep yang bisa
diaplikasikan dalam pendidikan Islam.
- Visi
dan misi pendidikan Islam menurut Prof. Dr. H. Abuddin Nata, MA adalah
sejalan dengan ajaran islam itu sendiri, mendekatkan manusia kepada Allah
dan menjadi rahmatan lil alamin, serta menjaga kehormatan manusia. Adapun
tujuan pendidikan Islam, membimbing manusia untuk menyembah dan
mentauhidkan Allah. Pendidikan Islam menurut Abuddin Nata memiliki
dasar-dasar diataranya, dasar tauhid, dasar kemanusiaan, dasar
keseimbangan, dasar persatuan, dasar rahmatan lil alamin. Menurut beliau
anak didik harus mendekatkan diri kepada Allah atau menghiasi diri dengan
akhlaq yang mulia yang disukai Allah. Lingkungan pendidikan menurut
Abuddin Nata mencakup keluarga, sekolah, dan Masyarakat. Abuddin Nata
menyebutkan bahwa, kurikulum pendidikan sebagai alat untuk mendidik
generasi muda dengan baik untuk menyiapkan mereka dengan baik untuk
melaksanakan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi. Menurut Abuddin
Nata, Al-Qur`an telah memberitahukan kita, bahwa pekerjaan evaluasi
terhadap manusia didik adalah merupakan suatu tugas penting dalam
tangkaian proses pendidikan yang telah dilaksanakan oleh pendidik.
[1] Sri Minarti, Ilmu
Pendidikan Islam Fakta Teoritis-Filosofis dan Aplikatif-Normatif, (Jakarta:
Amzah, 2013), hal. 63
[2] Zaghlul an-Najjar, Nazharat
fi `Azmati at-Ta`lim al-Mu`ashir wa Hululiha al-Islamiyah, (Mesir,
Mathba`ah al-Madani, 2006, Cet I), Hal 87.
[3]Abuddin Nata, Paradigma
Pendidikan Islam Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta: Pt.Gramedia,
2001), Hal 338. Lihat juga buku, Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan
Mengatasi KelemahanPendidikan Islam Di Indonesia, (Jakarta: Prenada Media,
2003), hal 309. Lihat Juga buku, Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam,
(Jakarta: Gaya Media Pratama, Cet Pertama, 2005), Hal 273.
[4] Abuddin Nata, Paradigma
Pendidikan Islam Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta, Pt.Gramedia,
2001), Hal 338. Lihat juga buku, Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan
Mengatasi KelemahanPendidikan Islam Di Indonesia, (Jakarta: Prenada Media,
2003), hal 309. Lihat Juga buku, Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam,
(Jakarta: Gaya Media Pratama. Cet. Pertama, 2005), Hal 275.
[5] Abuddin Nata, Filsafat
Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama. Cet Pertama, 2005), Hal 30
[6] Departemen Agama
RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya,
(Jakarta: PT. Sygma Examedia Arkanleema, 2009), hal. 69
[7] Abuddin Nata, Filsafat
Pendidikan Islam, (Jakarta : Gaya Media Pratama. Cet Pertama, 2005), Hal
106.
[8] Quraish Shihab, Membumikan
Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1994), hal. 145
[9] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama. Cet Pertama, 2005), Hal 63
[10] Ibid., Hal. 135
[11] Ibid., hal. 172
Komentar
Posting Komentar