Pemikiran Filsafat Kontemporer Terhadap Pendidikan Islam Menurut Prof. Quraish Shihab, MA


PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan Islam menunjukkan pada pengertian tentang model pendidikan yang bercorak Islam. Oleh karena itu, pada prinsipnya, konsepsi-konsepsi tentang pendidikan Islam selalu berlandaskan pada Al-Qur’an dan Hadits. Meskipun terkadang para ahli dalam merumuskan konsep pendidikan Islam memunculkan pendapat para tokoh pendidikan Islam yang otoritatif dan juga tokoh pemikir Barat, akan tetapi mereka tetap mengacu pada tawaran Al-Qur’an dan Hadits. Sementara pendapat-pendapat tokoh tersebut (Islam dan Barat), hanya sebagai jalan untuk menjelaskan keterangan-keterangan Al-Qur’an dan Hadits tentang masalah-masalah kependidikan tadi.
Fenomena di atas setidaknya dapat dilihat, salah satunya melalui karya M. Suyudi yang berjudul “Pendidikan dalam Perspektif Al-Qur’an: Integrasi Epistemologi Bayani, Burhani, dan Irfani”, di mana muatan buku tersebut terfokus pada kajian-kajian pendidikan perspektif Al-Qur’an. Suyudi berpendapat bahwa Al-Qur’an sebagai mukjizat, berisi petunjuk yang menjadi sentral wacana ideologi manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup, karena Al-Qur’an menyebut dirinya dengan nuansa persuasif edukatif seperti : Al-Kitab (pedoman), Al-Dzikr (peringatan), Al-Tibyan (penjelas), Al-Furqan (pembeda), Al-Syifa (penyembuh) dan lain-lain mengisyaratkan bahwa ia (Al-Qur’an) bukan sekedar kitab ilmu pengetahuan, namun sebagai petunjuk, pengarah dan pembimbing keseimbangan potensi rasional dan emosional, yang sarat dengan nuansa keilmuan, di mana hal tersebut erat kaitannya dengan pendidikan, khususnya pendidikan Islam.[1]
Selain contoh di atas, Quraish Shihab melalui karyanya yang berjudul “Membumikan Al-Qur’an” mencoba menyoroti aspek-aspek kehidupan manusia dengan tinjauan Al-Qur’an, termasuk di dalamnya tentang masalah-masalah pendidikan. Dalam bukunya tersebut, yang secara khusus dapat dilacak pada halaman 172-179 beliau menggulirkan konsep pendidikan Islam dalam Al-Qur’an. Dalam karyanya tersebut, beliau membahas aspek-aspek pendidikan Islam yang meliputi: tujuan pendidikan Islam, metode pendidikan Islam, sifat pendidikan Islam, dan materi pendidikan Islam.[2] Dalam menguraikan tentang konsep pendidikan Islam atau konsep pendidikan perspektif Al-Qur’an beliau mengatakan bahwa Al-Qur’an mengitroduksikan dirinya sebagai pemberi petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan petunjuk-petunjuk tersebut bertujuan memberi kesejahteraan dan kebahagiaan bagi manusia, baik secara individu maupun kelompok. Oleh karena itu, Rasulullah SAW, yang dalam hal ini sebagai penerima wahyu (Al-Qur’an), bertugas menyampaikan petunjuk-petunjuk tersebut, menyucikan dan mengajarkan manusia. Menyucikan dapat diidentikkan dengan mendidik, sedangkan mengajar tidak lain kecuali mengisi benak anak didik dengan pengetahuan yang berkaitan dengan alam metafisika serta fisika.[3]Keduanya, baik mensucikan ataupun mengajar merupakan salah satu kegiatan yang wajib ada dalam pendidikan, termasuk pendidikan Islam di dalamnya.
Upaya perumusan konsep pendidikan pada dasarnya bertolak dari Al Qur’an dan As Sunah. Prof. Dr. H.M. Quraish Shihab sebagai pakar tafsir lulusan Universitas Al Azhar, Kairo telah mencoba merumuskan konsep pendidikan berdasarkan perspektif Al Qur’an. Beliau juga berpengalaman memimpin IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta setelah menjadi Menteri Agama RI dan Duta Besar Indonesia di Mesir sehingga beliau dengan leluasa mengemukakan gagasan yang dimiliki, selanjutnya mengimplementasikan.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut:
  1. Bagaimana riwayat hidup Prof. Dr. H. M. Quraish Shihab, MA?
  2. Apa saja karya tulis Prof. Dr. H. M. Quraish Shihab, MA?
  3. Bagaimana pemikiran filsafat sebagai konsep pendidikan menurut Prof. Dr. H. M. Quraish Shihab, MA

PEMBAHASAN

A.    Riwayat Hidup
Prof. Dr. H. M. Quraish Shihab lahir tanggal 16 Februari 1944 di Rapang, Sulawesi Selatan. Ayahnya bernama Abdurrahman Shihab adalah keluarga keturunan Arab yang terpelajar, dan ulama sekaligus guru besar tafsir di IAIN Alauddin, Ujung Pandang. Abdurrahman percaya bahwa pendidikan adalah merupakan agen perubahan. Sikap dan pandangannya dapat dilihat dari latar belakang pendidikannya, yaitu Jami’atul Khair. Murid-murid yang belajar di lembaga ini diajari tentang gagasan-gagasan pembaruan gerakan dan pemikiran Islam. Hubungan yang erat dengan sumber-sumber pembaruan di Timur Tengah seperti Hadramaut, Haramaian dan Mesir. Salah satu guru yang didatangkan yaitu Syaikh Ahmad Soorkati yang berasal dari Sudan, Afrika.
Quraish Shihab menyelesaikan sekolah dasarnya di kota Ujung Pandang kemudian sekolah menengahnya di kota Malang sambil belajar agama di Pesantren Dar al-Hadits al Fiqhiyah. Pada tahun 1958, ketika berusia 14 tahun, ia berangkat ke Kairo, Mesir dan diterima di kelas II Tsanawiyah Al Azhar. Setelah itu ia diterima di Universitas Al Azhar dengan mengambil Jurusan Tafsir dan Hadits, Fakultas Ushuludin hingga menyelesaikan Lc  tahun 1967 dan pada tahun 1969 mendapatkan gelar M.A.
Setelah menyelesaikan studinya ia kembali ke Ujung Pandang kemudian kurang lebih sebelas tahun (1969-1980) ia terjun ke berbagai aktivitas sambil menimba pengalaman empirik di IAIN Alauddin maupun di berbagai institusi pemerintah setempat.
Ia diangkat sebagai Pembantu Rektor III IAIN Ujung Pandang dan juga terlibat dalam pengembangan pendidikan perguruan tinggi swasta wilayah Timur Indonesia dan diserahi tugas sebagai koordinator wilayah. Beberapa penelitian dilakukannya diantaranya ia meneliti tentang “Penerapan Kerukunan Hidup Beragama di Timur Indonesia” (1975), dan “Masalah Wakaf di Sulawesi Selatan” (1978).
Pada tahun 1980, Quraish Shihab kembali ke Mesir untuk meneruskan studinya di Program Pascasarjana Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadits, Universitas Al Azhar. Hanya dalam waktu dua tahun (1982) dia berhasil menyelesaikan disertasinya yang berjudul “Nazm al-Durar li al-Biqai Tahqiq wa Dirasah”.
Tahun 1984 ia pindah tugas dari IAIN Ujung Pandang ke Fakultas Ushuluddin di IAIN Jakarta. Ia aktif mengajar bidang Tafsir dan Ulum Al Quran di Program S1, S2 dan S3 sampai tahun 1998 dan menduduki jabatan Rektor IAIN Jakarta selama dua periode (1992-1996 dan 1997-1998), Menteri Agama kurang lebih dua bulan di awal tahun 1998.
Kehadiran Quraish Shihab di Ibukota Jakarta telah memberikan suasana baru dan disambut baik oleh masyarakat. Di samping mengajar, ia juga dipercaya menduduki sejumlah jabatan di antaranya yaitu:
1.      Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (sejak 1984)
2.      Anggota Lajnah Pentashhih Al Qur’an Departemen Agama (1989)

            Beberapa organisasinya antara lain:
1.      Asisten Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI)
2.      Pengurus Perhimpunan Ilmu-ilmu Syariah
3.      Pengurus Konsorsium Ilmu-ilmu Agama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
4.      Dewan  Redaksi Studia Islamika

H.M. Quraish Shihab juga sebagai penulis dan penceramah yang handal karena keilmuannya kokoh yang ia tempuh melalui pendidikan formal. Kemampuannya menyampaikan pendapat dan gagasan dengan bahasa yang sederhana, lugas, rasional, dan kecenderungan pemikiran yang moderat sehingga dapat diterima di masyarakat. Beberapa stasiun televisi seperti RCTI dan Metro TV juga diasuh olehnya dalam kajiannya di bulan Ramadhan.
Selain itu ia juga tercatat sebagai penulis yang sangat prolifik, bukunya antara lain berisi kajian di sekitar epistemologi Al Qur’an hingga menyentuh permasalahan hidup dan kehidupan dalam konteks masyarakat Indonesia kontemporer. Di majalah Amanah dia mengasuh rubrik “Tafsir al Amanah”, di Harian Pelita ia pernah mengasuh rubrik “Pelita Hati” dan di Harian Republika dia mengasuh rubrik atas nama dirinya yaitu “Quraish Shihab Menjawab”.
Muhammad Quraish Shihab adalah sarjana Muslim kontemporer Indonesia yang berhasil tidak hanya  dalam karier keilmuannya tetapi juga dalam karier sosial kemasyarakatan, terutama dalam bidang pemerintahan. Keahliannya dalam bidang tafsir untuk diabdikan dalam bidang pendidikan. Ia adalah seorang ulama yang memanfaatkan keahliannya untuk mendidik umat dengan sikap dan sifatnya yang patut diteladani. Penampilannya yang sederhana, tawadlu’, sayang kepada semua orang, jujur, amanah, dan tegas dalam prinsip. Semua itu merupakan sifat yang harus dimiliki seorang guru.

B.     Karya Tulis Prof. Dr. Quraish Shihab, MA
Yang tak kalah pentingya, Quraish Shihab sangat aktif sebagai penulis. Beberapa buku yang sudah Ia hasilkan antara lain:[4]
1.      Tafsir al-Manar, Keistimewaan dan Kelemahannya (Ujung Pandang, IAIN Alauddin, 1984)
2.      Menyingkap Tabir Ilahi; Asma al-Husna dalam Perspektif al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati, 1998)
3.      Untaian Permata Buat Anakku (Bandung: Mizan 1998)
4.      Pengantin al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati, 1999)
5.      Haji Bersama Quraish Shihab (Bandung: Mizan, 1999)
6.      Sahur Bersama Quraish Shihab (Bandung: Mizan 1999)
7.      Panduan Puasa bersama Quraish Shihab (Jakarta: Penerbit Republika, Nopember 2000)
8.      Panduan Shalat bersama Quraish Shihab (Jakarta: Penerbit Republika, September 2003)
9.      Anda Bertanya,Quraish Shihab Menjawab Berbagai Masalah Keislaman (Mizan Pustaka)
10.  Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Ibadah Mahdah (Bandung: Mizan, 1999)
11.  Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Al Qur'an dan Hadits (Bandung: Mizan, 1999)
12.  Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Ibadah dan Muamalah (Bandung: Mizan, 1999)
13.  Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Wawasan Agama (Bandung: Mizan, 1999)
14.  Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Tafsir Al Quran (Bandung: Mizan, 1999)
15.  Satu Islam, Sebuah Dilema (Bandung: Mizan, 1987)
16.  Filsafat Hukum Islam (Jakarta: Departemen Agama, 1987)
17.  Pandangan Islam Tentang Perkawinan Usia Muda (MUI & Unesco, 1990)
18.  Kedudukan Wanita Dalam Islam (Departemen Agama)
19.  Membumikan al-Qur'an; Fungsi dan Kedudukan Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan, 1994)
20.  Lentera Hati; Kisah dan Hikmah Kehidupan (Bandung: Mizan, 1994)
21.  Studi Kritis Tafsir al-Manar (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996)
22.  Wawasan al-Qur'an; Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1996)
23.  Tafsir al-Qur'an (Bandung: Pustaka Hidayah, 1997)
24.  Secercah Cahaya Ilahi; Hidup Bersama Al-Qur'an (Bandung; Mizan, 1999)
25.  Hidangan Ilahi, Tafsir Ayat-ayat Tahlili (Jakarta: Lentara Hati, 1999)
26.  Jalan Menuju Keabadian (Jakarta: Lentera Hati, 2000)
27.  Tafsir Al-Mishbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur'an (15 Volume, Jakarta: Lentera Hati, 2003)
28.  Menjemput Maut; Bekal Perjalanan Menuju Allah SWT. (Jakarta: Lentera Hati, 2003)
29.  Jilbab Pakaian Wanita Muslimah; dalam Pandangan Ulama dan Cendekiawan Kontemporer (Jakarta: Lentera Hati, 2004)
30.  Dia di Mana-mana; Tangan Tuhan di balik Setiap Fenomena (Jakarta: Lentera Hati, 2004)
31.  Perempuan (Jakarta: Lentera Hati, 2005)
32.  Logika Agama; Kedudukan Wahyu & Batas-Batas Akal Dalam Islam (Jakarta: Lentera Hati, 2005)
33.  Rasionalitas al-Qur'an; Studi Kritis atas Tafsir al-Manar (Jakarta: Lentera Hati, 2006)
34.  Menabur Pesan Ilahi; al-Qur'an dan Dinamika Kehidupan Masyarakat (Jakarta: Lentera Hati, 2006)
35.  Wawasan al-Qur'an Tentang Dzikir dan Doa (Jakarta: Lentera Hati, 2006)
36.  Asmâ' al-Husnâ; Dalam Perspektif al-Qur'an (4 buku dalam 1 boks) (Jakarta: Lentera Hati)
37.  Sunnah - Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?; Kajian atas Konsep Ajaran dan Pemikiran (Jakarta: Lentera Hati, Maret 2007)
38.  Al-Lubâb; Makna, Tujuan dan Pelajaran dari al-Fâtihah dan Juz 'Amma (Jakarta: Lentera Hati, Agustus 2008)
39.  40 Hadits Qudsi Pilihan (Jakarta: Lentera Hati)
40.  Berbisnis dengan Allah; Tips Jitu Jadi Pebisnis Sukses Dunia Akhirat (Jakarta: Lentera Hati)
41.  M. Quraish Shihab Menjawab; 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui (Jakarta: Lentera Hati, 2008)
42.  Doa Harian bersama M. Quraish Shihab (Jakarta: Lentera Hati, Agustus 2009)
43.  Seri yang Halus dan Tak Terlihat; Jin dalam al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati)
44.  Seri yang Halus dan Tak Terlihat; Malaikat dalam al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati)
45.  Seri yang Halus dan Tak Terlihat; Setan dalam al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati)
46.  M. Quraish Shihab Menjawab; 101 Soal Perempuan yang Patut Anda Ketahui (Jakarta: Lentera Hati, Maret 2010)
47.  Al-Qur'ân dan Maknanya; Terjemahan Makna disusun oleh M. Quraish Shihab (Jakarta: Lentera Hati, Agustus 2010)
48.  Membumikan al-Qur'ân Jilid 2; Memfungsikan Wahyu dalam Kehidupan (Jakarta: Lentera Hati, Februari 2011)
49.  Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW, dalam sorotan Al-Quran dan Hadits Shahih (Jakarta: Lentera Hati, Juni 2011)
50.  Do'a al-Asmâ' al-Husnâ (Doa yang Disukai Allah SWT.) (Jakarta: Lentera Hati, Juli 2011)
51.  Tafsîr Al-Lubâb; Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-Surah Al-Qur'ân (Boxset terdiri dari 4 buku) (Jakarta: Lentera Hati, Juli 2012)

C.    Pemikiran Filsafat Sebagai Konsep Pendidikan Islam Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab, MA
Dari seluruh karya tulis Quraish Shihab yang dianalisis Kusmana, menyimpulkan bahwa secara umum karakteristik pemikiran keislaman Quraish Shihab adalah bersifat rasional dan moderat. Ia tidak memaksakan agama mengikuti kehendak realitas kontemporer  namun memberikan penjelasan atau mengapresiasi kemungkinan pemahaman dan penafsiran baru tetapi dengan tetap sangat menjaga kebaikan tradisi lama dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Gagasan dan pemikiran Quraish Shihab antara lain:
1)      Tujuan pendidikan, merujuk dalam QS. Al Jumu’ah: 2
uuqèd Ï%©!$# y]yèt/ Îû z`¿ÍhÏiBW{$# Zwqßu öNåk÷]ÏiB (#qè=÷Ftƒ öNÍköŽn=tã ¾ÏmÏG»tƒ#uä öNÍkŽÏj.tãƒur ãNßgßJÏk=yèãƒur |=»tGÅ3ø9$# spyJõ3Ïtø:$#ur bÎ)ur (#qçR%x. `ÏB ã@ö6s% Å"s9 9@»n=|Ê &ûüÎ7B ÇËÈ    
. “ Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,”[5] (Q. S. Al-Jumu’ah: 2)

H.M. Quraish Shihab berkesimpulan bahwa tujuan pendidikan Al Qur’an adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah. Atau dengan kata yang lebih singkat sering digunakan oleh Al Qur’an untuk bertakwa kepada-Nya.
Selanjutnya Quraish Shihab menjelaskan bahwa manusia yang dibina melalui pendidikan adalah makhluk yang memiliki unsur-unsur material (jasmani) dan immaterial (akal dan jiwa). Pembinaan akalnya menghasilkan ilmu. Pembinaan jiwanya menghasilkan kesucian dan etika, sedangkan pembinaan jasmaninya menghasilkan ketrampilan. Dengan penggabungan unsur-unsur tersebut, terciptalah makhluk dwidimensi dalam satu keseimbangan dunia dan akhirat, ilmu dan iman.
Quraish Shihab juga mencoba menghubungkan tujuan pendidikan dalam Al Qur’an dengan tujuan pendidikan nasional. Menurutnya tujuan pendidikan Islam itu bersifat universal, berlaku untuk seluruh bangsa dan umat di dunia. Hal ini sejalan dengan misi Al Qur’an yang ditujukan untuk membawa rahmat bagi seluruh alam. Manusia itulah yang dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi.[6]
2)      Metode pendidikan
Materi-materi pendidikan yang disajikan oleh Al Qur’an hampir selalu mengarah kepada jiwa, akal, dan raga manusia. Terdapat dalam QS Al Anfal: 17,
öNn=sù öNèdqè=çFø)s?  ÆÅ3»s9ur ©!$# óOßgn=tGs% 4 $tBur |MøtBu øŒÎ) |MøtBu  ÆÅ3»s9ur ©!$# 4tGu 4 uÍ?ö7ãŠÏ9ur šúüÏZÏB÷sßJø9$# çm÷ZÏB ¹äIxt/ $·Z|¡ym 4 žcÎ) ©!$# ììÏJy ÒOŠÎ=tæ ÇÊÐÈ  

“…Bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S Al-Anfal: 17)
Al Qur’an membuktikan kebenaran materi tersebut melalui pembuktian-pembuktian, baik dengan argumen maupun yang dibuktikan melalui penalaran akalnya. Quraish Shihab mengatakan bahwa menceritakan kisah-kisah dalam Al Qur’an dengan menggaris bawahi akibat kelemahan atau melukiskan saat kesadaran manusia dan kemenangannya mengatasi kelemahan tadi.
H.M. Quraish Shihab juga menggunakan kalimat-kalimat yang menyentuh hati. Al Qur’an juga menggunakan metode pembiasaan dalam menanamkan ajaran kepada umat manusia. Ia berpendapat bahwa pendidikan kita khususnya dalam bidang metodologi sering kali menitik beratkan hafalan, atau contoh-contoh yang dipaparkan menyentuh hati, ditambah lagi nasihat yang di berikan tidak ditunjang oleh panutan pemberinya.
3)      Sifat pendidikan
Menurut Quraish Shihab sifat pendidikan Al Qur’an adalah rabbaniy yang oleh dijelaskan ciri-cirinya antara lain:
1)      Mengajarkan Kitab Allah
2)      Mempelajarinya secara terus menerus.

Quraish Shihab sejalan dengan konsepsi Al Qur’an tentang keharusan menuntut ilmu dan memperoleh pendidikan sepanjang hayat melalui jalur-jalur formal, informal dan non formal. Dengan kata lain pendidikan seumur hidup menjadi tanggung jawab keluarga, masyarakat dan pemerintah.
Berdasarkan uraian di atas  terbukti bahwa Quraish Shihab aktif dalam kegiatan dan pemikiran yang berkaitan dengan pendidikan. Pemikirannya sangat dipengaruhi dalam bidang tafsir Al Qur’an yang dipadukan dengan penguasaannya  terhadap ilmu keislaman maupun pengetahuan umum serta konteks masyarakat Indonesia.
Pemikiran dan gagasan H.M. Quraisy Shihab menunjukkan bahwa di dalam Al Qur’an terdapat ayat-ayat yang memiliki implikasi terhadap munculnya konsep pendidikan yang cukup menarik. Selain itu perlunya melakukan studi secara lebih mendalam tentang pendidikan dalam perspektif Al Qur’an.
Umat Islam akan lebih memahami dan terinternalisasi esensi rasa agama itu sendiri yaitu:
a.       Rasa bertuhan, merasa ada sesuatu yang Maha Besar yang berkuasa atas dirinya dan alam semesta, rasa dekat, rasa rindu, rasa kagum dan lain-lain.
b.      Rasa taat, meliputi rasa ingin mengarahkan diri pada kehendak-Nya dan rasa ingin mengikuti aturan-aturan-Nya.

Petunjuk pendidikan dalam al-Qur’an tidak terhimpun dalam kesatuan pragmen tetapi ia diungkapkan dalam berbagai ayat dan surat al-Qur’an, sehingga untuk menjelaskannya perlu melalui tema-tema pembahasan yang relevan dan ayat-ayat yang memberikan informasi-informasi pendidikan yang dimaksud.
Al-Qur’an mengintroduksikan dirinya sebagai pemberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus (Q.S. Al-Israa: 19),
ô`tBur yŠ#ur& notÅzFy$# 4Ótëyur $olm; $yguŠ÷èy uqèdur Ö`ÏB÷sãB y7Í´¯»s9'ré'sù tb%Ÿ2 Oßgã÷èy #Yqä3ô±¨B ÇÊÒÈ
Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan cukupkan Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya.” (Q.S Al-Isro: 19)
Petunjuk-petunjuknya bertujuan memberi kesejahteraan dan kebahagiaan bagi manusia, baik secara pribadi maupun kelompok, dan karena itu ditemukan petunjuk-petunjuk bagi manusia dalam kedua bentuk tersebut. Muhammad Rasulullah Saw dipandang sukses dalam mendidik masyarakatnya menjadi masyarakat yang berbudi tinggi dan akhlak mulia. Pada mulanya masyarakat Arab adalah masyarakat jahiliyah, sehingga perkataan primitif tidak cukup untuk menggambarkannya, hingga datang Rasulullah yang membawa mereka untuk meninggalkan kejahiliahan tersebut dan mencapai suatu bangsa yang berbudaya dan berkepribadian yang tinggi, bermoral serta memberi pengetahuan.
   Al-Qur’an memberi petunjuk atau arah, jalan yang lurus mencapai kebahagiaan bagi manusia, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 16:
Ïôgtƒ ÏmÎ/ ª!$# ÇÆtB yìt7©?$# ¼çmtRºuqôÊÍ Ÿ@ç7ß ÉO»n=¡¡9$# Nßgã_̍÷ãƒur z`ÏiB ÏM»yJè=à9$# n<Î) ÍqY9$# ¾ÏmÏRøŒÎ*Î/ óOÎgƒÏôgtƒur 4n<Î) :ÞºuŽÅÀ 5OŠÉ)tGó¡B ÇÊÏÈ  
            Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”(Q.S. Al-Maidah: 16)

Nabi Muhammad Saw sebagai utusan Allah untuk manusia di bumi ini di beri kuasa oleh Allah sebagai penerima wahyu, yang diberi tugas untuk mensucikan dan mengajarkan manusia sebagaimana dalam surat al-Baqarah ayat 151. Dalam ayat tersebut mensucikan diartikan dengan mendidik, sedang mengajar tidak lain kecuali mengisi benak anak didik dengan pengetahuan yang berkaitan dan metafisika dan fisika.
Tujuan yang ingin dicapai dengan pembacaan, penyucian dan pengajaran tersebut adalah pengabdian kepada Allah, sejalan dengan tujuan penciptaan manusia dalam surat Al-Dzariyat(51) ayat 56:
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ 
 Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Q.S Adzariyat: 56)

Maksudnya Allah tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menjadikan tujuan akhir atau hasil segala aktivitasnya sebagai pengabdian kepada Allah.[7] Proses pembelajaran ta’lim secara simbolis dinyatakan dalam informasi al-Qur’an ketika penciptaan Adam As oleh Allah Swt. Adam As sebagai cikal bakal dari makhluk berperadaban (manusia) menerima pemahaman tentang konsep ilmu pengetahuan langsung dari Allah Swt, sedang dirinya (Adam As) sama sekali kosong. Sebagaimana tertulis dalam surat al-Baqarah ayat 31 dan 32:
zN¯=tæur tPyŠ#uä uä!$oÿôœF{$# $yg¯=ä. §NèO öNåkyÎztä n?tã Ïps3Í´¯»n=yJø9$# tA$s)sù ÎTqä«Î6/Rr& Ïä!$yJór'Î/ ÏäIwàs¯»yd bÎ) öNçFZä. tûüÏ%Ï»|¹ ÇÌÊÈ   (#qä9$s% y7oY»ysö6ß Ÿw zNù=Ïæ !$uZs9 žwÎ) $tB !$oYtFôJ¯=tã ( y7¨RÎ) |MRr& ãLìÎ=yèø9$# ÞOŠÅ3ptø:$# ÇÌËÈ 
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar. Mereka menjawab, Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(Q. S. Al-Baqoroh: 31-32).
Dari ketiga konsep diatas, terlihat hubungan antara tarbiyah, ta’lim dan ta’dib. Ketiga konsep tersebut menunjukkan hubungan teologis  (nilai tauhid) dan teologis (tujuan) dalam pendidikan Islam sesuai al-Qur’an yaitu membentuk akhlak al-karimah.
Penjelasan dari ayat diatas, makna Dia yakni Allah mengajar Adam nama-nama benda seluruhnya, yakni memberinya potensi pengetahuan tentang nama-nama atau kata-kata yang digunakan menunjuk benda-benda, atau mengajarkannya mengenal fungsi benda-benda. Ayat ini menginformasikan bahwa manusia dianugerahi potensi  untuk mengetahui nama atau fungsi dan karakteristik benda-benda, misalnya fungsi api, fungsi angin dan sebagainya. Dia juga dianugerahi potensi untuk berbahasa. Sistem pengajaran bahasa kepada manusia (anak-anak) bukan dimulai dengan mengajarkan kata kerja, tetapi mengajarnya terlebih dahulu nama-nama (yang mudah), seperti ini papa, ini mama, itu pena, itu pensil dan sebagainya. Itulah sebagian makna yang dipahami oleh para ulama dari firman-Nya: Dia mengajar Adam nama-nama (benda) seluruhnya.[8]
Bagi ulama-ulama yang memahami pengajaran nama-nama kepada Adam As, dalam arti mengajarkan kata-kata, diantara mereka ada yang berpendapat bahwa kepada beliau dipaparkan benda-benda itu, dan pada saat yang sama beliau mendengar suara yang menyebut nama benda yang dipaparkan itu. Ada juga yang berpendapat bahwa Allah mengilhamkan kepada Adam As nama benda itu pada saat dipaparkannya sehingga beliau memiliki kemampuan untuk memberi kepada masing-masing benda nama-nama yang membedakannya dari benda-benda yang lain. Pendapat ini lebih baik dari pendapat pertama. Ia pun tercakup oleh kata mengajar karena mengajar tidak selalu dimaknakan menyampaikan suatu kata atau idea, tetapi dapat juga berarti mengasah potensi yang dimilki peserta didik sehingga pada akhirnya potensi itu terasah dan dapat melahirkan aneka pengetahuan.
Apapun tafsiran ayat tersebut, namun yang pasti salah satu keistimewaan manusia adalah kemampuannya mengekspresikan apa yang terlintas dalam benaknya serta kemampuannya menangkap bahasa sehingga mengantarkannya untuk mengetahui. Kemampuan manusia merumuskan idea dan memberi nama bagi segala sesuatu merupakan langkah menuju terciptanya manusia berpengetahuan dan lahirnya ilmu pengetahuan.[9]
Kata al-‘alim terambil dari akar kata ‘ilm berarti menjangkau sesuatu sesuai dengan keadaannya yang sebenarnya. Bahasa Arab menggunakan semua kata yang tersusun dari huruf ‘ain, lam dan mim dalam berbagai bentuknya untuk menggambarkan sesuatu yang sedemikian jelas sehingga tidak menimbulkan keraguan. Allah Swt menamai dirinya “alim karena pengetahuan-Nya yang amat jelas sehingga terungkap baginya hal-hal yang sekecil-kecilnya apapun.
Pengetahuan semua makhluk bersumber dari pengetahuan-Nya. Di dalam Q. S. Al-Baqoroh ayat 255:
ª!$# Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ÓyÕø9$# ãPqs)ø9$# 4 Ÿw ¼çnäè{ù's? ×puZÅ Ÿwur ×PöqtR 4 ¼çm©9 $tB Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# $tBur Îû ÇÚöF{$# 3 `tB #sŒ Ï%©!$# ßìxÿô±o ÿ¼çnyYÏã žwÎ) ¾ÏmÏRøŒÎ*Î/ 4 ãNn=÷ètƒ $tB šú÷üt/ óOÎgƒÏ÷ƒr& $tBur öNßgxÿù=yz ( Ÿwur tbqäÜŠÅsム&äóÓy´Î/ ô`ÏiB ÿ¾ÏmÏJù=Ïã žwÎ) $yJÎ/ uä!$x© 4 yìÅur çmÅöä. ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur ( Ÿwur ¼çnߊqä«tƒ $uKßgÝàøÿÏm 4 uqèdur Í?yèø9$# ÞOŠÏàyèø9$# ÇËÎÎÈ  

Allah mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” (Q.S. al-Baqarah, 255)

Melalui informasi ayat diatas, diketahui bahwa pengetahuan yang dianugerahkan Allah Swt kepada Adam As, atau potensi untuk mengetahui segala sesuatu dari benda-benda dan fenomena alam merupakan bukti kewajaran Adam As menjadi khalifah di muka bumi ini.
Kekhalifahan di bumi adalah kekhalifahan yang bersumber dari Allah Swt, yang antara lain bermakna melaksanakan apa yang dikehendaki Allah menyangkut bumi ini. Dengan demikian pengetahuan atau potensi yang dianugerahkan Allah itu merupakan syarat sekaligus modal utama untuk mengelola bumi ini. Tanpa pengetahuan atau pemanfaatan potensi berpengetahuan, maka tugas kekhalifahan manusia akan gagal, walau dia tekun beribadah kepada Allah Swt, serupa dengan sujud dan ketaatan malaikat. Akhirnya, Allah Swt, bermaksud menegaskan bahwa bui tidak dikelola semata-mata hanya dengan tasbih dan tahmid tetapi dengan amal ilmiah dan ilmu amaliyah.





















KESIMPULAN

Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat dikemukakan beberapa kesimpulan yaitu:
  1. Riwayat hidup Quraish Shihab sangat dekat dengan aktivitas pendidikan, bahkan sebagai pemikir dan praktisi pendidikan. Secara formal selain menjadi dosen bidang tafsir dan ilmu-ilmu keislaman lainnya, dia konsen dengan manajemen proses-proses pendidikan.
  2. Dilihat dari segi keahliannya, Quraish Shihab tercatat sebagai ahli tafsir Al Qur’an yang amat disegani dan penulis yang amat produktif. Dia berusaha menyampaikan pesan-pesan moral dan pendidikan kepada umat, oleh sebab itu, pada topik kajiannya selalu mengemukakan nilai-nilai edukatif.
  3. Terdapat tiga topik kajian yang secara langsung berhubungan dengan pendidikan, yaitu:
a.       Konsep pendidikan dalam Al Qur’an
b.      Ilmu pengetahuan dan teknologi
c.       Akhlak.
Dalam topik kajian tentang konsep pendidikan dalam Al Qur’an, Quraish Shihab menjelaskan pengertian pendidikan, tujuan pendidikan, kurikulum pendidikan, metode pendidikan, dan sifat pendidikan Islam.
  1. Dari segi sifat dan coraknya, Quraish Shihab memiliki konsep dan gagasan tentang pendidikan yang sejalan dengan pandangan Al Qur’an yang menjadi bidang keahliannya.
  2. Pendidikan agama adalah bentuk pendidikan nilai, karena itu maksimal dan tidaknya pendidikan agama tergantung dari faktor yang dapat memotivasi untuk memahami nilai agama.
  3. Agama tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan orang-orang tertentu, namun agama memang menjadi kebutuhan setiap pribadi seseorang. Proses penyadaran dan perubahan untuk meningkatkan nilai jiwa keagamaan pun akan mudah dikembangkan.



[1] M. Suyudi, Pendidikan dalam Perspektif Al-Qur’an, Yogyakarta, Mikraj, 2005, hlm. 5.
[2] Lihat  Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, Bandung, Mizan, 2005, hlm. 172-160.
[3] Ibid., hlm. 172.
[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Quraish_Shihab, diakses pada tanggal 1 November 2016
[5] Departemen Agama RI,  Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: PT. Sygma Examedia Arkanleema, 2009),  hal. 115
[6] Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, (Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat), Bandung: Mizan, 2007, hlm. 98
[7]Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002 Vol. 1), hlm. 172
[8] Quraish Shihab, Tasfir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002, vol. 11), hlm. 146
[9] Ibid., hlm. 147

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sarana dan Prasarana Pendidikan

Syiah dan Sunni

Ma'had Aly